Timses Ahok Sebut Banyak Kecurangan Saat Pilkada DKI putaran Kedua







KanalBerita8.co- Temuan kecurangan massif ditemukan diberbagai titik seperti, di Jakarta Barat dan Jakarta Utara misalnya. Tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat menemukan adanya dugaan tindakan intimidasi saat pencoblosan. 

Keyakinan itu didukung dari beberapa TPS, terpantau ada empat TPS di Jakarta Barat tepatnya dekat TPU Tegal Alur, kelurahan Kamal, Kalideres. Kegaduhan di TPS 13, 16, 17, dan 24 dinilai telah mengintimidasi warga disana agar tidak datang ke TPS menggunakan hak pilihnya. 

"Ada lagi kerumunan orang dengan atribut tertentu. Ini mengakibatkan pendukung Ahok-Djarot enggan turun ke TPS," ungkap Jubir Timses Ahok-Djarot, Raja Juli Antoni, melalui keterangan tertulis,  Rabu (19/4/17).

Sementara ribuan tahanan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Jakarta Pusat, tidak dapat menggunakan hak pilih mereka. Dari total 2.826 tahanan, hanya 464 tahanan yang valid dan terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT). Kemudian dari 464 tahanan, ada 58 tahanan yang tidak valid.

Kepala Seksi Pelayanan Rutan Salemba, Riski Burhanudin mengatakan pemilih yang tidak valid, ada yang sudah dipindahkan rutannnya, ada juga yang meninggal. "C6 ada yang tidak terbagi, ada yang dikembalikan. Tetapi Pilkada kedua ini, para tahanan lebih antusias dibanding Pilkada putaran pertama," katanya.

Riski menjelaskan, penyeleksian calon DPT melalui scanning dari data base ketika tahanan dipindahkan ke Rutan. Karena setiap tahanan baru, harus melaporkan Surat Perintah Penahanan, disitu tertera lengkap semua data tahanan. Kemudian setelah diinput ke data base, semua diserahkan ke KPU.

Terkait alasan ribuan tahanan tidak bisa menyuarakan pilihannya, Rutan Negara Kelas 1 Jakarta Pusat, tidak mengetahui betul. Pasalnya, yang menentukan DPT adalah KPU pusat, sementara pihaknya hanya menjalankan pelaksanaan Pilkada saja.

Lain hal di Kalideres dan Rutan Salemba. Di TPS 5 Patra Kuningan, Jakarta, Selatan, tempat Presiden RI ketiga BJ Habibie memberikan suara untuk Pilkada DKI Jakarta. Wakapolsek Setiabudi Kompol Fahri Siregar bersama jajarannya terpaksa mengusir sekelompok orang di TPS tersebut.

Sekelompok orang kata Fahri mereka mengenakan kaos berwarna putih bertuliskan pernyataan agar masyarakat tidak terkotak-kotak. Mereka mengaku sebagai pihak yang ditunjuk salah satu pendukung pasangan calon untuk menjaga TPS yang dimaksud.

"Kami imbau sekelompok orang untuk menjauh, dan tidak memiliki kepentingan lain di TPS 5. Namun ada salah satu dari mereka yang memang ditunjuk menjadi saksi di TPS ini dan mampu membuktikan surat penunjukannya, maka kami perbolehkan seorang dari mereka berada disini," tegasnya.

Terakhir dan tak kalah menariknya terjadi di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Seorang warga mengaku didera teror dengan cairan oli bekas yang disiramkan pada motor dan mobil dirumahnya.

Di dekat motornya, ada 3 plastik sisa pembungkus oli. "Itu teror. Biarin tuhan yang balas. ?Semuanya sekitar 6 liter," jelas Rasyidin. 

Terkait insiden itu, Rasyidin sudah melapor pada pihak kepolisian. Pagi tadi, ada personil kepolisian yang mendatangi kediamannya untuk menggali keterangan.

Pesta demokrasi yang baru saja kita nikmati akhirnya berakhir dengan usainya pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran kedua pada 19 April 2017. Namun perjuangan dalam mencapai daerah yang adil sejaterah masih terus berjalan.

Akan tetapi dalam penerapan sistem demokrasi yang ada di Indonesia masih perlu diperhatikan agar segenap warga negara bisa menerima arti demokrasi yang sesungguhnya. Adapun terkait konteks Pilgub DKI bisa menerima kemenangan maupun kekalahan.

Sekalipun masih banyak ditemukan kejanggalan serta kelemahan didalamnya, Pemerintah dalam hal ini lebih banyak mempertimbangkan untuk kepentingan bersama. Inilah dinamika politik yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat.

Pilkada DKI Jakarta memang telah menyerap seluruh energi, baik pihak keamanan, Pemerintah, maupun masyarakat Ibu kota. Untuk itu masuarakat pun harus bijak dan mencerna proses demokrasi yang cukup mahal harganya. Setidaknya apa yang terjadi hari ini sudah menjadi keputusan warga Jakarta dalam menentukan nasib Jakarta Lima tahu kedepan. 

Mari kita tunggu hasil keputusan KPU dalam melaksanakan tugas tanggung jawabnya dalam penghitungan suara. Meskipun data quick count telah menyebutkan kemenangan paslon no tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Dan untuk pihak yang merasa dikalahkan harus bisa menerima dengan legowo.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Timses Ahok Sebut Banyak Kecurangan Saat Pilkada DKI putaran Kedua"

Posting Komentar