NU menolak Konsep Yang di Bawa HTI,Karena Berpontensi Buka Indonesia Kembali Dikuasai Asing




KanalBerita8.co- Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan agama, juga terkenal dengan toleransinya, serta Bhineka Tunggal Ika-nya.

Maka tidak ada satu pun yang bisa menggantikan ideologi Pancasila yang sejak lama menjadi pedoman kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.
Dengan semangat “menegakkan Khilafah” yang diusung oleh HTI justru memberii peluang bagi negara-negara asing untuk melakukan penetrasi dan menguasai NKRI.
NKRI yang sudah diusahakan dijaga sedemikian rupa saja, kekuatan negara-negara asing masih terus melakukan penetrasi ke negeri ini.
Jika NKRI ini dirubah tentu saja bukan hanya tanah air dan sumber daya alam yang hancur, akan tetapi 200 juta umat Islam yang ada di dalamnya juga akan hancur.
Nah, Longmarch dalam rangka show of force Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) serentak di berbagai kota di Jawa Timur yang baru kemarin dilakukan menunjukkan, bahwa organisasi anti Pancasila dan NKRI ini sudah merasa kuat dan siap berhadapan dengan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi keagamaan yang giat menyuarakan membela NKRI.
Sebagai permasalahan utamanya, HTI berusaha untuk mendirikan kembali sistem Khilafah dan menegakkan hukum yang diturunkan Allah dalam realitas kehidupan. Hizbut Tahrir sendiri merupakan organisasi politik, bukan organisasi kerohanian, bukan lembaga ilmiah bukan lembaga pendidikan, dan bukan pula lembaga sosial.
Seperti diketahui, HTI masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an dengan merintis dakwah di kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Meski kehadiran mereka sejak tahun 70an sudah ada.
Ide-ide dakwah Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai aktivitas dakwah di masjid, perkantoran, perusahaan, dan perumahan. Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah.
“Dimasa orde baru merekea (HTI) dipeti es kan dianggap gerakan bawah tanah. Setelah reformasi mereka kembali bergerak diatas tanah. Ada beberapa gerakan, tapi yang paling kuat konsepnya
adalah HTI dengan cita-cita mereka ingin mendririkan negara Khilafah secara global. Makanya dari awal mereka menolah Nation State, NKRI, otomatis menolak Pancasila,” kata Direktur Institut Pancasila dan Kewarganegaraan, Syaiful Arif saat dihubungi via telepon
Bahkan menurut Syaiful, HTI pernah mempropagandakan Pancasila sebagai ideologi kafir kepada anggotanya, bahwa Islamisme adalah ideologi yang benar.
Sementara NU memandang bahwa NKRI dan Pancasila adalah pilihan terbaik untuk keutuhan bangsa ini, serta terbuka kebebasan umat Islam dalam menjalankan ajarannya. Selain itu, dalam konteks dakwah, Islam lebih berpotensi besar membumikan nilai-nilai ajarannya di seluruh aspek kehidupan dan pelosok bangsa ini, daripada memaksakan mendirikan negara Islam yang berpotensi akan memecah belah bangsa ini.
HTI Perjuangan politiknya tampak jelas dalam kegiatannya menentang para penguasa, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi. Mereka juga tidak mewakili umat Islam dan tidak berhak mengklaim mewakili umat secara keseluruhan.
Oleh karenanya kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan HTI, misalnya dengan mengemukakan ide-ide (konsep-konsep) Islam beserta hukum-hukumnya untuk dilaksanakan, diemban, dan diwujudkan dalam kenyataan hidup dan pemerintahan sangat tidak relevan dan bisa mengancam NKRI.
Kita mengetahuinya, berdirinya Indonesia berkat perjuangan para pahlawan bukan hanya dari kalangan Muslim tetapi juga dari kalangan non muslim lainnya. Tekad mereka hanya satu menjadikan Indonesia merdeka dengan keberagaman yang ada. Dan bukan menjadikan Indonesia negara agama (Islam).
Politik di Indonesia banyak sekali dinamikanya. Dinamika politiknya berupa permasalahan ideologi, yang terus diperjuangkan oleh kelompok-kelompok tertentu salah satunya HTI. Oleh karenanya mari kita simak sedikit sejarah berdirinya Hizbut Tahrir di dunia.
Hizbut Tahrir berdiri pada tahun 1953 di Al-Quds (Baitul Maqdis), Palestina. Gerakan ini menitik beratkan perjuangan membangkitkan umat di seluruh dunia untuk mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya kembali Khilafah Islamiyah, dipelopori oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama alumni Al-Azhar Mesir, dan pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah di Palestina.
Hizbut Tahrir telah berkembang ke seluruh negara Arab di Timur Tengah, termasuk di Afrika seperti Mesir, Libya, Sudan dan Aljazair. Kawasan Eropa antara lain di Turki, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, Austria, Belanda, dan negara lainnya.
Hizbut Tahrir juga hadir hingga Amerika Serikat, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Pakistan, Malaysia, Australia serta Indonesia. Hizbut Tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Tujuan ini berarti mengajak kaum muslimin kembali hidup secara Islami dalam Darul Islam dan masyarakat Islam. Di mana seluruh kegiatan kehidupannya diatur sesuai dengan hukum-hukum syara’.
Pandangan hidup yang akan menjadi pedoman adalah halal dan haram, di bawah naungan Daulah Islamiyah, yaitu Daulah Khilafah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang diangkat dan dibai’at oleh kaum muslimin untuk didengar dan ditaati agar menjalankan pemerintahan berdasarkan
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.
Apa yang dilakukan oleh BANSER dalam menindak HTI selama ini adalah bagian dari komitmen BANSER dalam menjaga Agama dan Negara RI ini. Mestinya Pemerintah RI harus segera mengambil tindakan tegas dengan melarang Hizbut Tahrir karena membahayakan keutuhan NKRI.
Di samping karena Hizbut Tahrir mengusung ajaran-ajaran sesat baik secara aqidah maupun syari’at yang jarang disadari oleh umat Islam. Hizbut Tahrir juga cukup membahayakan bagi kadaulatan dan keutuhan NKRI.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "NU menolak Konsep Yang di Bawa HTI,Karena Berpontensi Buka Indonesia Kembali Dikuasai Asing"

Posting Komentar