KanalBerita8.co- Dalam serangan besar-besaran di Pulau Mindanao, militer Filipina telah menewaskan puluhan simpatisan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS).
Militer Filipina melakukan serangan besar-besaran ke markas militan di Mindanao dengan menggunakan jet tempur FA-50, helikopter, pesawat pengebom, dan artileri.
Sebanyak 37 militan tewas, 14 orang telah diidentifikasi dan 23 masih belum diketahui. Di antara para korban, terdapat tiga warga Negara Indonesia, dan seorang warga Malaysia.
"Kami menewaskan 37 militan, 14 orang telah diidentifikasi dan 23 masih belum diketahui," kata Kepala Militer Nasional Jenderal Eduardo Ano di Manila, Selasa (25/4/17). "Ada tiga warga Indonesia dan satu warga Malaysia," sambung dia.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu M Iqbal menyatakan belum ada informasi terkait dengan kematian tiga WNI itu dari Pemerintah Filipina kepada Indonesia. ”Belum ada informasi,” ucapnya.
Menurut Iqbal, pihak Indonesia sangat ingin mengetahui informasi tersebut. ”Kami ingin mengetahuinya supaya bisa memberikan bantuan,” katanya lagi.
Sementara Juru bicara brigade Letnan Kolonel Jo-ar Herrera, yang memimpin penyerbuan di kota Piagapo, Lanao del Sur, menjelaskan, para tentara hanya menemukan tiga jenazah anggota kelompok ekstrem. Namun, warga setempat dan para informan melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dari kelompok militan jauh lebih besar lagi.
Menurut Herrera, para prajurit menemukan paspor-paspor asing milik para korban tewas. Namun, Herrera menolak memberikan penjelasan secara detail. Ano mengklaim, para anggota kelompok militan yang tewas telah dikonfirmasi lewat laporan intelijen dan sejumlah saksi.
”Operasi terakhir ini memang direncanakan untuk menekan kemampuan kelompok Maute,” ucapnya. Militer Filipina menyebutkan, beberapa jam setelah kamp yang dioperasikan oleh kelompok Maute itu dikuasai pasukan pemerintah, bendera Filipina dikibarkan di tempat tersebut.
Menurut Ano, operasi terus dilakukan untuk memastikan apakah pemimpin kelompok Maute, Isnilon Hapilon, masih hidup atau tidak. Maute merupakan satu dari sejumlah kelompok baru yang mengikrarkan diri berafiliasi dengan NIIS. Di antara kelompok-kelompok baru itu, dibangun aliansi yang bersifat tidak terlalu mengikat.
Belum ada tanggapan untuk "Kemenlu Belum pastikan Ada warga Indonesia Yang Tewas dalam Serangan Militer Filipina"
Posting Komentar