KanalBerita8.co-Associate Donald Trump di Indonesia telah bergabung dengan perwira militer dan sebuah gerakan jalanan dengan main hakim sendiri yang terkait dengan ISIS dalam sebuah kampanye yang pada akhirnya bertujuan untuk menggulingkan presiden negara tersebut.
Menurut pejabat militer dan intelijen Indonesia serta tokoh senior yang terlibat dalam yang disebut "kudeta," menggulingkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang digerakan oleh beberapa jenderal aktif dan pensiunan.
Belakangan gerakan yang menonjol pendukung itu didalamnya termasuk Fadli Zon, Ketua DPR RI dan pendorong utama Donald Trump di negara ini; Dan Hary Tanoe, mitra bisnis utama Trump, yang membangun dua resor Trump, satu di Bali dan satu di luar Jakarta.
Di permukaan, demonstrasi besar-besaran di seputar pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 19 April muncul dari oposisi terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Akibat tekanan dari demonstrasi yang didanai dengan baik dan terorganisir dengan baik yang telah menarik ratusan ribu - mungkin jutaan - ke jalan-jalan di Jakarta,
Ahok akhirnya diadili karena diduga melakukan penodaan agama atas komentarnya soal surat Al Maidah.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon mempertanyakan laporan investigasi jurnalis Amerika Serikat, Allan Nairn, yang pertama kali dirilis di situs The Intercept. Laporan itu menyebutkan bahwa kasus penistaan agama terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dijadikan dalih agar bisa makar terhadap Presiden Joko Widodo oleh sejumlah pihak.
"Orang itu ngawur (enggak benar), pernah saya laporkan ke polisi," kata Fadli ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (20/4/17).
Sebuah pemberitaan di salah satu media online yang memberitakan terkait Investigasi Allan Nairn yang Menyebut Kasus Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar, langsung ditanggapi Markas Besar (Mabes) TNI.
Melalui Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto, TNI menyatakan, investigasi Allan Nairn yang menyebut kasus Ahok hanyalah Dalih untuk makar adalah tidak benar alias hoax.
"Itu (berita) sama sekali tidak benar," kata Wuryanto melalui keterangan tertulisnya, Jumat (21/4/17).
Ada beberapa hal yang disampaikan Allan dalam tulisan yang dipublish di salah satu media online, di antaranya, yang menyebut Laksamana (Purn) Soleman Ponto (mantan Kepala BAIS) mengatakan, para pendukung gerakan makar di kalangan militer menganggap Ahok cuma pintu masuk, gula-gula rasa agama buat menarik massa.
"Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Jokowi," kata Soleman dalam tulisan tersebut.
Kemudian ada kutipan percakapan dengan Mayjen (Pur) Kivlan Zein yang menyebut bahwa Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo merestui aksi demo-demo besar untuk menggulingkan Jokowi.
"Setelah apa yang dia bicarakan tentang penggulingan Jokowi dan mengambil tindakan seperti pada tahun '65, saya bertanya: apakah Jenderal Gatot—Panglima angkatan bersenjata saat ini—setuju?
"Dia setuju! Tapi dia (Kivlan) pun menambahkan, "Sebagai perwira yang masih aktif, Gatot harus “sangat berhati-hati” mengambil sikap di depan publik."
Spekulan Alan merupakan cara untuk mengadudomba ditengah demokrasi Indonesia yang kian bagus. Karena investisinya dinilai tanpa dukungan data otentik.
Caranya tentu bukan serangan langsung militer ke Istana Negara, melainkan "kudeta lewat hukum", mirip-mirip kebangkitan rakyat yang menggulingkan Soeharto pada 1998. Hanya, kali ini publik tidak berada di pihak pemberontak—dan tentara nasional Indonesia, alih-alih melindungi Presiden, lebih senang ikut menggerogotinya.
"Makar ini bakal kelihatan seperti pertunjukan People Power," ujar Soleman. "Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur," dan presiden sudah terjengkang saat mereka bangun.
Sementara aksi-aksi protes yang dipimpin FPI bakal menggelembung kelewat besar, membikin Jakarta dan kota-kota lain kacau-balau, lalu militer datang dan menguasai segalanya atas nama menyelamatkan negara. Kemungkinan penuh kekerasan ini dibicarakan secara rinci oleh Muhammad Khaththath, Sekjen Forum Umat Islam, dan Usamah Hisyam.
Pihak Al Khaththath membantah investigasi jurnalis Amerika Serikat, Allan Naim, yang menyebut makar memang sengaja direncanakan dengan dalih kasus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Enggak ada sama sekali pengakuan dan pernyataan itu, enggak ada kata-kata makar,” ujar pengacara Al Khaththath, Achmad Michdan, saat dihubungi Tempo, Jumat, (21/4/17).
Allan Nairn adalah jurnalis investigasi asal Amerika Serikat yang diketahui pernah dipenjara pada era Soeharto karena menulis laporan mengenai Timor Timur. Dia juga diketahui meliput kasus-kasus terkait HAM di berbagai belahan dunia seperti di Haiti, Indonesia dan Guatemala.
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima Wapres AS Michael Pence di Istana Wakil Presiden, Kamis 20 April 2017 sekitar pukul 11.30 WIB dan melakukan pertemuan bilateral dengan Wapres Kalla hingga pukul 12.30 WIB.
Dalam pertemuan tersebut Wapres mengatakan Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Pence datang pada saat yang tepat untuk melihat kehidupan demokrasi Indonesia pascapilkada yang dewasa.
"Saya mengatakan, Anda datang pada saat yang tepat, pilkada selesai, kita sudah jabat tangan, tidak ada lagi ribut-ribut, itulah demokrasi Indonesia, jadi dia tidak menyinggung lagi," kata dia di Istana Wakil Presiden, Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan Wapres JK untuk menanggapi pertanyaan terkait hasil pertemuan bilateral dengan Wapres Amerika Serikat Michael Pence tentang toleransi dan Islam moderat.
Belum ada tanggapan untuk "Jurnalis Amerika Allan Nairn Sebut Aksi FPI hanya Terhadap Ahok hanya dalih untuk Makar"
Posting Komentar