KanalBerita8.co-Pesta demokrasi Pilkada DKI Jakarta sudah usai, saatnya menatap masa depan Jakarta yang lebih maju. Tak perlu lagi kita menghitung berapa banyak waktu yang terbuang dengan memikir perbedaan agama, etnis, golongan, SARA.
Bukan tidak mudah kita bisa dihancurkan oleh karena persoalan yang tak seharusnya terus diangkat ke permukaan. Pedoman Pancasila telah jelas membuka mata kita, bahwasannya hidup berbangsa dan bernegara dengan banyak prebedaan membuat kita menjadi mengerti makna hidup dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Tak perlu lagi kita memperdebatkan suku, maupun agama kita, karena sejatinya kita dilahirkan sudah berbeda. Akan tetapi bagaimana kita bisa menerima perbedaan itu dan saling menghormati.
Bukan hal baru politik dikaitkan dengan agama. Namun kedua kata itu sering kali digesek untuk memuaskan hasrat dalam mencapai sebuah kekuasaan.
Berbagai cara akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Salah satunya dengan memprovokasi, menghasut, serta menjatuhkan lawan politik sesuai bayaran.
Mungkin inilah peran yang coba dimainkan oleh pria yang pernah berkutat mengisi tulisan di halaman 'kompasiana' yang terdaftar pada 4 Januari 2010. Adalah Faizal Assegaf, yang tak pernah lelah melantunkan kritikan kepada para penguasa meski tanpa didasari dengan fakta kuat.
Tulisannya dalam Kompasiana pun cenderung provokatif. Memakai propaganda, dan hantam siapa saja tak pandang bulu. Hingga suatu saat akunnya di suspend oleh sang empunya.
Namun langkah itu tak menyurutkan dirinya untuk terus menebar kebencian serta hasutan, asal terpecah bukan persoalan lagi buat dirinya. Sudah banyak modus yang dimainkan seolah lidah dan tangannya tak mau berhenti.
Lantas siapa lagi yang menjadi sasaran empuk Faizal Assegaf?
Nama Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj menjadi salah satu nama dalam daftar hitam miliknya. Sebelum dan sesudah Pilgub DKI, PBNU tak pernah sepi dari pemeberitaan, bahkan tak sedikit kantor yang berpusat di Jalan Kramat Raya nomor 104 Jakarta Pusat ini mendapat kritikan dari sesama muslim karena diduga mendukung salah satu paslon cagub DKI 2017.
Padahal seperti diketahui bersama, Kantor PBNU ini tak pernah jauh dari cerita ketika jelang Pilpres maupun Pilkada. Siapapun berhak datang sekedar soan dengan pucuk pimpinan NU itu. Tak terkecuali Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Kehadiran Ahok dipenghujung hari pencoblosan dikaitkan dengan sinyal bahwa Said Aqil telah memberikan lampu hijau dan mendukung Ahok sebagai cagub DKI pada putaran terakhir.
Namun hal itu tak bisa dieliminisir begitu saja, dorongan kuat yang menyudutkan keberpihakan Said terhadap Ahok semakin tak terbendung. Faizal pun terus menggoreng kemampuannya untuk mendesak agar Ketum PBNU itu mundur dari jabatannya.
Said dinilai dengan alasan telah mencoreng organisasi serta mencederai perasaan ummat ketika dirinya dituduh 'ada main' dengan Ahok. Bahkan terlebih lagi, Said dikatakan bertanggung jawab besar atas terpecah sebagian ummat Islam pada Pilkada kemarin. Selain itu, Said juga dituduh menerima mahar politik atas mendukung Ahok.
Lalu apa kepentingan Faizal sementara dirinya juga bukan bagian dari nahdliyyin. Beruntung, kemungkinan NU tidak terpancing atas celoteh tersebut.
Akhir-akhir ini gerakan radikal telah menyusup ditiap penjuru Indonesia. Nah, Ibu Kota kali ini kena getahnya. Banyak sekelompok maupun perorangan yang dengan sengaja atau secara lebih terencana untuk menghancurkan sendi-sendi Pancasila. Caranya dengan membenturkan ummat Islam. Kontestasi Pilkada sangat tepat digunakan sebagai media untuk mengadudomba.
Meski berbagai upaya dilakukan oleh kelompok intoleran, masih ada ruang putih yang mampu menmbus strategi licik.
Beredar sebuah percakapan di Grup WA Media Dakwah Islami, yang didalamnya ada anggota-anggota FPI dan HTI. Dalam percakapan tersebut jelas ada sebuah agenda untuk menghantam sesorang.
Kalau dilihat korelasinya sangat mungkin, Ahok merupakan corong atau jembatan untuk mereka dengan mudah menjatuhkan Said Aqil. Mengapa tidak?
"Mereka yang mendukung dan membela mati-matian, tidak mungkin jika mereka tidak minta bantuan dan tidak minta perlindungan. Ini yang saya Fokuskan, masalah Ahok mau dipenjara silahkan saja, itu bukan urusan saya. Jika suatu saat benar-benar terjadi Chaos lantaran mereka sudah membuka Pintu melalui Paslonnya, semoga saya dan kawan-kawan yang selama ini melawan tidak salah jalan dan menjadi Catatan Sejarah, bahwa kami tidak Mendukung dan tidak Diam,” tulis Moch Zain disebuah group facebook disertai screenshot bukti bocoran tersebut.
Dengan ciptakondisi seolah tersusun rapih, “Aqil Siradj harus bertanggungjawab dengan segala manuver politik pragmatis yang telah membuat jutaa umat Islam terluka. Bahkan perlu mempercepat agar dirinya turun dari jabatan Ketum PBNU,” kata Faizal menyarankan.
Masih kurang jelas? Kita simak lagi percakapan berikut.
"SKRG GUBERNUR MUSLIM MENANG...FOKUS PD DUA TUJUAN 1.JEBLOSKAN AHOK KE PENJARA 2.LENGSERKAN KETUM PBNU...," tulis seorang bernama Farhan Al-Kaff atau Ayip Farhan Al-Kaff.
Tulisan itu ditanggapi oleh Ahmad Al Athos " Situasi Darurat..!!...Yth :Seluruh Commandantee....Istruksikan kpd pasukan saksi untuk amankan C1...sangat urgent..!!.(server exitpool diganggu...berarti server quick qount juga bisa diganggu...Pengamanan HANYA dg pegang C1.LAKSANAKAN..!!."
Percakapan itu lantas dinilai salah seorang netizen Aswaja NU yang menanggapi kalau masalah Ahok bukan yang utama menjadi fokusnya. Akan tetapi ini menjadi catatan penting terkait PBNU.
Perlu diketahui, ditarik kebelakang sedikit, dalam sebuah kesempatan Said Aqil pernah mengatakan "Warga NU tidak akan memilih orang yang menyinggung NU”. Hal itu disampaikan Said usai Ahok dianggap telah menghina Rais Amm PBNU KH Ma’ruf Amien saat hadir dalam persidangan Ahok dan menimbulkan reaksi di banyak orang.
Dalam kesempatan berbeda Said sharing panduan simpel untuk warga Jakarta dalam menanggapi Pilkada. Warga, kata dia, tinggal memastikan pasangan calon kepala daerah yang mereka yakini, tanpa ada mesti menghakimi orang lain yang tidak sama pilihan.
”Silahkan lain (pilihan) namun tetaplah akur, rukun, damai,” ungkap Said.
Dia mengimbau umat, intinya yang di Ibu Kota, untuk ikut serta menyukseskan Pilkada DKI. Said menyampaikan, pesta demokrasi selaiknya jadi hal yang bersejarah untuk semuanya. Maka dari itu, Pilkada semestinya berisi senyum, damai, serta santun.
”Tidak usah berkelahi, siapa yang menang, itu yang kita hormati, mesti kita terima. Tak perlu mencaci-maki,” ungkap Said.Cukup jelas bukan, apa maksud dan kepentingan sekelompok orang-orang tersebut.
Mari kita bentengi diri kita dengan Pancasila, untuk saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak. Apalagi dengan menyerukan kepada masyarakat untuk jihad yang tak punya dasar.
Belum ada tanggapan untuk "Inginkan Saiq Aqil Turun Dari Jabatan Ketum PBN,Ini Fitnah Yang dimainkan Kelompok Radikal"
Posting Komentar