KanalBerita8.co- Akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa aksi-aksi yang melatarbelakangi aksi terorisme di Indonesia sering kali dipertautkan dengan agama.
Bukankah sudah menjadi kebenaran umum bahwa agama merupakan suatu wadah dalam menciptakan ketentraman dan kedamaian umat manusia.
Terlalu simplistik kalau menjelaskan suatu tindakan terorisme hanya berdasarkan satu penyebab saja, misalnya psikologis. Konflik etnik, agama, dan ideologi, kemiskinan, tekanan modernisasi
ketidakadilan politik, kurangnya saluran komunikasi dana, tradisi kejamanan, lahirnya kelompok – kelompok revolusioner, kelemahan dan ketidakmampuan pemerintah.
Memang tidak bisa disalahkan jika terorisme dikaitkan dengan persoalan hak asasi manusia (HAM), karena akibat terorisme banyak kepentingan umat manusia yang dikorbankan, rakyat yang tidak bersalah dijadikan ongkos kebiadaban dan kedamaian hidup antar umat manusia jelas – jelas dipertaruhkan.
Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya dalam memerangi aksi radikalisme dan terorisme agar tidak tumbuh subur di bangsa ini.
Selain itu pemerintah juga terus menjaga kedamaian setiap warga negara ini dengan melakukan upaya-upaya yang bisa mententramkan setiap warganya.
Salah satunya dalam memerangi masalah tindak pidana terorisme dan menolak intervensi asing.
Untuk itu Bahrain berencana akan mendukung Indonesia menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB Periode 2019-2020.
Melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ketua DPR RI, Setya Novanto menilai dukungan tersebut sangat positif bagi Indonesia dalam percaturan politik luar negeri. Apalagi dukungan Bahrain bisa membuat nama Indonesia di kancah internasional semakin diperhitungkan.
Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dan Bahrain sebagai negara Islam terus bekerja sama mempromosikan perdamaian di
berbagai kawasan dunia, khususnya di Timur Tengah melalui forum-forum internasional, termasuk forum antar-parlemen.
“Masalah terorisme dan gerakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam, seperti ISIS, juga harus menjadi perhatian kita bersama.
Indonesia dan Bahrain, bersama masyarakat internasional
lainnya, akan terus bekerja sama mengatasi masalah tersebut,” katanya beberapa waktu lalu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menurutnya, Indonesia dan Bahrain telah sepakat untuk menolak terorisme dan intervensi asing dalam urusan dalam negeri.
“Kita juga menolak politisasi HAM. Bahrain juga menghadapi persoalan terorisme seperti Indonesia. Kita juga hadapi intervensi asing dalam persoalan dalam negeri,” ungkapnya.
Langkah pemerintah membentuk densus 88 harus diacungi jempol, mengingat kerja keras mereka yang berhasil menangkap dan menggalkan berbagai aksi terorisme di Negara kita ini.
Semua itu merupakan bukti bahwa pemerintah tidak main-main dalam menangani permasalahan tersebut.
Secara umum, strategi penanggulangan terorisme di Indonesia saat ini dapat dikelompokkan menjadi dua pendekatan, yakni pendekatan hard power (keras) dan soft power (lunak) yang dikombinasikanmenjadi sebuah pendekatan yang komprehensif.
Belum ada tanggapan untuk "Tegas Perangi Aksi Radikalisme dan Terorisme,Indonesia-Bahrain Sepakat Perangi Terorisme"
Posting Komentar