HTI masuk Kampus Sebarkan Paham Radikal,Mahasiswa Diminta Lebih Bijak




KanalBerita8.co- Tak bisa dipungkiri bahwa gerakan Islam radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tumbuh subur di kalangan terpelajar, di kampus-kampus dan lebih-lebih di universitas umum ada fakultas eksaktanya (ilmu pasti).

Gerakan Islam garis keras justru lebih mudah diterima oleh segmen masyarakat terdidik daripada tidak terdidik, karena faktor rasionalitas. Mahasiswa khususnya di fakultas-fakultas eksakta akan lebih mudah menerima asumsi-asumsi sosial yang diajukan oleh sebuah gerakan Islam radikal. 

Kebiasaan berpikir secara rasional dan juga positivistis bagi mahasiswa-mahasiswa eksakta menjadikan mereka berpikir secara dikotomis, hitam-putih atau benar-salah. Kebiasaan cara berpikir secara dikotomis seperti inilah yang akhirnya memudahkan gerakan-gerakan Islam konservatif dan radikal masuk. 

Hal itu didukung oleh faktor ketidakadilan sosial yang banyak terjadi di Indonesia. Ketidakadilan sosial ini dipahami dengan lebih baik oleh kalangan akademisi secara informatif dan pada umumnya mereka memahaminya sebagai kesalahan yang sistemik.

Di lain pihak, Islam juga diyakini memiliki konsep bahkan sistem sosial yang lebih bagus untuk menyelesaikan problem-problem sosial. Iming-iming bahwa Islam akan menyelesaikan problem sosial yang sistemik tersebut memudahkan kalangan akademisi untuk bergabung dalam jaringan Islam radikal semacam HTI. Apalagi jika tawaran itu dilandasi doktrin agama dibingkai dengan konsep Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.

Menurut Ketua Pengurus Cabang NU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab menilai, pemikiran khilafah yang dikembangkan HTI memang telah berkembang subur di tengah kampus eksakta.
Kalau dispesifikkan di kalangan perguruan tinggi, khususnya di program studi eksakta, dikatakan Gus AAb karena kalangan mahasiswa eksakta banyak mendapat transformasi keilmuan di bidang agamalebih pada proses instan, seperti e-learning atau halaqoh yang tidak berangkat dari dasar pengetahuan itu sendiri yang banyak dipelajari di pesantren.

Hal Ini yang kemudian, menjadi pekerjaan rumah bagi NU dan seluruh badan otonom. Pengurus dan aktivis NU harus menyosialisasikan paham kebangsaan dan keislaman di semua lini masyarakat, termasuk kampus.
Gus AAb mengakui gerakan penyebaran pemikiran NU di kampus kurang masif dan ada anggapan bahwa pemikiran masyarakat kampus tak mudah terkonversi dengan aliran pemikiran seperti HTI."Di masyarakat memang agak terasa, dakwah kami masih kurang. 

Di situ perlu sentuhan khusus untuk menyosialisasikan amalan dan hujjah NU ini kepada masyarakat kampus sesuai tingkat berpikir mereka, yang ilmiah dan logis yang sesuai dengan sistematika berpikir mereka," ungkapnya.

Eksistensi Perkembangan Gerakan Radikal di Kampus Pada pertengahan April 2016 lalu, beberapa mahasiswa yang diantaranya merupakan kader HTI menggelar spanduk yang berisi pendirian negara Islam dengan berdiri tanpa suara di jalan di kota Yogyakarta, dengan membentangkan spanduk bertuliskan Indonesia berkah, dengan syariah. Islam Rahmatan Lil Alamin. Hanya ada dalam Khilafah.

Dalam Hizbut Tahrir disebutkan organisasi ini berdiri pada 1953 di Palestina, yang digagas oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, alumni Al-Azhar Mesir.

Organisasi yang menyebut sebagai gerakan politik ini bertujuan untuk mendirikan sistem kekhalifahan ini masuk ke Indonesia pada kurun waktu 1980an melalui dakwah-dakwah di kampus besar di Indonesia, sebelum akhirnya merambah ke kelas menengah melalui pengajian di masjid di dalam permukiman warga, perusahaan dan perkantoran.Kajian LIPI menyebutkan HTI merupakan bagian dari gerakan Islam transnasional yang menyuburkan paham radikal kalangan pelajar dan mahasiswa, selain Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin) dan salafi.

Perkembangan demokrasi di Indonesia setelah runtuhnya rezim otoritarian Orde Baru menunjukkan signifikansi yang cukup menggemparkan. Partai politik kian menjamur danmuncul pula gerakan-gerakan sosial yang beragam coraknya dengan membawa ideologi masing-masing. Ruang demokrasi yang lebar ini dimanfaatkan oleh sementara golongan untuk kembali menunjukkan eksistensinya setelah mendapat kekangan dari penguasa. 

Diantara sekian banyak ideologi dan gerakan yang muncul kembali itu ialah gerakan yang membawa ideologi Islam, dan salah satunya adalah HTI. Dibanding dengan gerakan non mainstream yang lain, HTI memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan kelompok lainnya, HTI mampu tumbuh pesat dengan konsepnya yang kuat.  

Di awal kemunculannya di Indonesia, gerakan ini mendapat simpati dari kalangan muslim menengah dan berlatarbelakang pendidikan tinggi. Di Surabaya HTI berkembang pesat di beberapa kampus, termasuk di Universitas Airlangga (Unair). 

Untuk membidik fenomena gerakan HTI di Unair dari sudut pandang kaderisasinya. Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah wawancara mendalam dan studi pustaka. 

Selain memberikan deskripsi yang jelas terhadap proses kaderisasi HTI di Unair, penelitian juga memberikan analisis mengenai fenomena berkembangnya gerakan HTI di Unair dengan menggunakan pisau analisis teori gerakan sosial yang dikemukakan oleh McAdam yaitu faktor-faktor pendorong berkembangnya suatu gerakan sosial politik antara lain, pertama, struktur kesempatan politik. Kedua, kemampuan gerakan untuk memobilisasi sumber daya gerakan. Dan ketiga, upaya pembingkaian yang dilakukan gerakan untuk mengekspansi aktivitas dan pengaruhnya. 

HTI di Unair mampu berkembang dari aspek kaderisasinya karena mereka mendapatkan ruang yang amat lebar untuk berkembang di Unair dengan sistem politik yang terbuka. 

Perkembangan gerakan HTI di Unair juga ditunjang oleh upaya mereka yang secara konsisten menjalankan mobilisasi sumber daya dengan mengerahkan sumber daya yang mereka miliki dalam rangka menjaring para mahasiswa untuk menjadi kadernya.Mendompleng Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa di Indonesia memiliki peran besar dalam menggulingkan pemerintahan Suharto pada 1998 lalu, melalui gelombang demonstrasi yang mendukung demokrasi bergulir dari kampus ke kampus.

Lantas pascareformasi, gerakan yang mendukung sistem pemerintahan Islam khilafah menguat di kampus-kampus yang antara lain dilakukan oleh ormas HTI, yang berniat mendirikan negara Islam.

Gerakan-gerakan Islam radikal cenderung menggunakan atau mendompleng pada kegiatan-kegiatan extra-kurikuler mahasiswa, yang kurang mendapatkan perhatian para pemegang kebijakan. 

Begitu peliknya mengkait hubungkan urusan agama dan negara secara harmonis dan dinamis dalam bingkai NKRI yang irisannya sebenarnya telah dibangun dengan baik oleh para ulama dan pendiri bangsa ini pada masa lalu seakan-akan runtuh seketika melalui gempuran provokasi dan propaganda HTI dengan menganggap bahwa dunia harus disatukan di bawah satu kepemimpinan dan satu Khalifah, yang sistemnya disebut Khilafah Islamiyah. 

Bagi kelompok penganut Khilafah ini, demokrasi adalah sistem taghut dan kufur karena demokrasi dianggap sebagai sistem jahiliyah, gagal, rusak dan merusak, pemilihan umum dan sejenisnya adalah haram dana tidak sah (batil) karena tidak ada dalam syara’ dan terakhir bahwa nasionalisme adalah haram, batil dan status keharamannya disamakan dengan (ber) zina. 

Maka wajar sebagian dari kita mempertanyakan komitmen kebangsaan dan keislaman dari para aktivis dan penganjur Khilafah lainnya yang berlindung dibawah naungan organisasi bernama HTI.

HTI tak ubahnya seperti pengkhianat bangsa yang ingin merubah ideologi kebhinnekaan bangsa Indonesia. Jika Lembaga Dakwah kampus diisi oleh pemahaman islam seperti wahabi HTI yang bermimpi menegakkan Khilafah maka 20 tahun lagi Indonesia akan kehilangan Pancasila dan ke Bhinekaan nya.

Dengan bekerjasama dengan organisasi mahasiswa Islam atau dosen-dosen universitas yang moderat diharapkan bisa mereduksi penyebaran ideologi gerakan Islam radikal seperti HTI.Ideologi Pancasila dan NKRI Harga Mati

Pancasila telah menjadi roh dan penuntun bangsa, landasan kemajemukan cara berpikir, bertutur dan berperilaku ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejarah telah membuktikan bahwa Bung Karno sebagai proklamator telah membentuk negara ini menjadi negara berideologi Pancasila yang integralistik, yakni yang berketuhanan yang maha esa, berperikemanusiaan yang beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan perwakilan, berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pancasila sebagai perekat yang dijadikan ideologi Negara dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar hukum kita dalam tatanan bernegara. Maka dengan bhineka tunggal ika masyarakat yang heterogen ini tak mudah dihancurkan, dan kita dipersatukan oleh NKRI, mulai dari Sabang sampai Merauke terdiri dari berbagai pulau yang harus konsisten menjaga dan mempertahankan seluruhnya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "HTI masuk Kampus Sebarkan Paham Radikal,Mahasiswa Diminta Lebih Bijak"

Posting Komentar